Strategi Hulu Hilir PT Kimia Farma Tbk Dalam Menyongsong Era SJSN-BPJS

kimia farmaa

Oleh : Ahmad Fiki Firdaus

 

PT Kimia Farma Tbk (KAEF) sebagai produsen obat milik pemerintah merupakan salah satu produsen obat yang paling serius dalam menyongsong era SJSN-BPJS. Dalam persiapannya menyonsong era SJSN-BPJS, PT Kimia Farma banyak melakukan pergerakan untuk meningkatkan daya saing perusahan agar dapat memenangkan persaingan dari produsen obat lainnya. PT Kimia Farma banyak berbenah diri untuk melakukan inovasi dan termasuk transformasi bisnis agar tidak kalah bersaing. Oleh karena itu, Kimia Farma bertekad mengembangkan bisnisnya dari hulu sampai hilir. Artinya, lini bisnis Kimia Farma tidak hanya sebatas memproduksi obat semata tetapi berkaitan dengan distribusi dan pelayanan kesehatan dan obat-obatan.

Dalam tulisan sebelumnya telah dijelaskan beberapa anak perusahan dan strategi Kimia Farma dalam menghadapi BPJS. Kimia Farma melakukan peningkatan produksi obat generik, karena pada era SJSN-BPJS diperkirakan kebutuhan terhadap obat generik akan meningkat hingga 3 kali lipat. Hal ini lah yang menyebabkan banyak produsen obat PMDN maupun PMA ramai-ramai memproduksi dan meningkatkan kapasitas produksi obat generik termasuk Kimia Farma.

Era SJSN-BPJS tidak hanya berbicara bagaimana kebutuhan obat dapat dipenuhi oleh produsen obat, tetapi juga berbicara bagaimana pemerataan obat-obatan itu dapat dilakukan hingga pelosok negeri. Hal ini menjadi peluang untuk anak perusahaan Kimia Farma, yaitu PT. Kimia Farma Trading & Distribution untuk melakukan pemerataan distribusi obat yang akan memasarkan obat-obatan, baik produk dari Kimia Farma maupun produk dari pihak prinsipal. Dengan begitu luasnya wilayah Indonesia, akan menjadi tantangan sekaligus peluang PT. Kimia Farma Trading & Distribution untuk meningkatkan pendapatan perusahaan.

Dibawah ini merupakan beberapa pergerakan lain yang dilakukan Kimia Farma dalam menyongsong Era SJSN-BPJS:

1. Akusisi Saham Indofarma

Akusisi Kimia Farma terhadap Indofarma akan diarahkan untuk sinergis dan karena itu, pasca akuisisi tersebut tidak akan mengubah rencana bisnis Kimia Farma dan sebaliknya akan memperkuat penjualan Kimia Farma. Kimia Farma telah memasukkan dokumen rencana “rights issue” dan akuisisi saham publik milik Indofarma kepada DPR. Nantinya, Kimia Farma akan menerbitkan saham baru sekitar 20% dengan dana yang diperoleh sekitar Rp 700 miliar. Pengambilalihan saham publik milik Indofarma ini dilakukan menyusul rencana penggabungan ke dua perusahaan farmasi tersebut. Saat ini, pemegang saham publik Indofarma sebanyak 19,32%, sedangkan pemerintah menguasai 80,66%.

2. Membangun Kimia Farma Tianjin King Yonk

Untuk mendongkrak penjualan, Kimia Farma giat melakukan ekspansi bisnis dan termasuk kerjasama dengan BUMN farmasi asal Cina yaitu Tianjin Pharmaceutical Group Co Ltd untuk membentuk perusahaan baru bernama Kimia Farma Tianjin King Yonk. Kerja sama ini untuk meningkatkan kapasitas produksi Kimia Farma dan untuk menjadikan Kimia Farma sebagai leader market perusahaan farmasi di Indonesia. Dalam kerjasama tersebut akan memproduksi alat-alat kesehatan rumah sakit berupa ampul dengan kapasitas produksi diawal sebanyak 30 juta pertahun, vial sebanyak 10 juta pertahun dan infus 20 juta pertahun. Rencananya pabrik ini akan beroperasi sebelum akhir tahun 2014 dan pembangunan pabrik perusahaan kerjasama ini akan dibangun di kawasan Lippo Cikarang dengan luas lahan 3 hektar dan menelan investasi sebesar Rp 250 miliar. Kemudian sebagai pemegang saham, Kimia Farma sebanyak 49%, PT Tigaka Distrindo Perkasa 5% dan Tianjin Pharmaceutical Group co. Ltd sebanyak 46%.

3. Membangun Rumah Sakit (RS) Liver

PT Kimia Farma Tbk (KAEF) akan membangun sebuah rumah sakit untuk penanganan penyakit liver dengan investasi Rp 280 miliar dan menggandeng PT Prakarsa Transforma Indonesia.  Pendirian rumah sakit ini seiring dengan berkembangnya pasar kesehatan, selain juga ditunjang fakta bahwa hampir 20 juta masyarakat Indonesia menderita penyakit hepatitis. Rumah sakit liver dengan 14 tingkat ini akan berlokasi di Jalan DR. Sahardjo, Jakarta Selatan, dan didirikan di lahan seluas 14.000 meter persegi. Setelah pembangunan RS liver di Jakarta Selatan ini, Kimia Farma akan membangun lima rumah sakit lainnya, antara lain di Medan, Bandung, Makassar serta Semarang.  Pembangunan rumah sakit ini nantinya dapat memanfaatkan lahan yang dimiliki perseroan di beberapa kota tersebut. Setelah berhasil membangun lima rumah sakit, diharapkan kontribusi dari RS tersebut 10 persen ke perusahaan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s