Advertisements

Penanganan Kasus Obesitas Dengan Fitoterapi

Oleh: Desiainy Sahara S.

PENDAHULUAN

Nyonya Mulan (bukan nama sebenarnya), 45 tahun, adalah seorang ibu rumah tangga dengan 3 orang anak. Nyonya Mulan memiliki tinggi badan 160 cm dan berat badan 90 kg. Dengan kondisi seperti itu, nyonya Mulan mengalami obesitas. Sejak melahirkan anak yang ketiga, nyonya Mulan terbiasa memakan apa saja yang dia senangi, terutama ayam goreng, cokelat, cream cake, dan fast food. Continue reading

Reaksi Hipersensitivitas

Oleh: Guruh Pratomo Setiawan Hadi

A.    LATAR BELAKANG

Imunitas adalah resistensi terhadap penyakit terutama infeksi. Gabungan sel, molekul dan jaringan yang berperan dalam resistensi terhadap infeksi disebut sistem imun. Reaksi yang dikoordinasi sel-sel, molekul-molekul dan bahan lainnnya terhadap mikroba disebut respon imun. Sistem imun diperlukan tubuh untuk mempertahankan keutuhannya terhadap bahaya yang dapat ditimbulkan berbagai bahan dalam lingkungan hidup (Baratawidjaja, 2009). Continue reading

Selamat Datang

Selamat datang di PharmaBright, Universitas Jenderal Soedirman, Puwokerto, Jawa Tengah. PharmaBright merupakan mewadahi tulisan para penggiat kampus Farmasi UNSOED, dalam rangka percepatan pencipataan kondisi akademis di lingkungan kampus. Mahasiswa, dosen, adalah aset berharga dan memiliki potensi luar biasa, sebagai orang-orang yang berada pada ranah akademisi, diharapkan menjadi agent of change bagi masyarakat, bangsa, dan negara.

Farmasi Unsoed

Farmasi Unsoed merupakan salah satu jurusan yang ada di Fakultas Kedokteran dan Ilmu-ilmu Kesehatan di Unsoed. Jurusan Farmasi ini pada awalnya adalah Program Sarjana Farmasi (PS Farmasi) yang berdiri setelah dikeluarkannya SK dari Dirjen Dikti yaitu 598/D/t/2005 pada bulan Maret. Berdirinya PS Farmasi bersamaan dengan Program Sarjana Pendidikan Keperawatan. Continue reading

Pengalaman Jaga Ujian (bagian Pertama)

Oleh: Sarmoko

Kamis pagi (30/6), gunung Slamet dengan gagah berdiri menterang di arah utara. Cerah memang, tidak ada awan menutupi dan matahari pagi memamerkan sinarnya kala itu. Jalan kaki menyusuri jalanan yang masih sepi di kompleks perumahanan Limas (kalo gak salah). Tidak sampai 7 menit, sampailah di depan gerbang MM Pasca. Eits..ternyata pintu gerbang tidak menutup sempurna, diam dulu sejenak membayangkan apakah badanku cukup langsing menerobos celah sempit itu. Ah, ternyata berhasil. Cukup cerdas memotong jalan beberapa meter dan sampailah di kompleks kampus FKIK.

Setelah perjalanan malam sebelumnya yang cukup melelahkan, sampai juga di kosan baru. Disambut oleh ibu kos dan bapak kos yang ramah. Biasalah, tanya-tanya dari mana asalnya, kuliah di mana, tadi naek apa, dsb. Dianterlah sampai depan kamar oleh mereka berdua, sambil bukain pintu dan nyerahin kunci. Tiba-tiba bapak kost nya nyeletuk “Mamih, masnya ini kok mirip xxxx ya (sensor red.)”. Ough… nama yang pernah aku dengar sepertinya. “Lho, masnya kenal dia juga? Iya itu masih saudara ma saya, anaknya memang agak unik tapi dia anak yang baik” sambung ibu kost.

Cukup intermezo-nya, dan tiba-tiba sampailah di lantai 2. Jaga ujian Farmakoepidemiologi. Istilah yang sering aku dengar, tapi belum tahu apa dalemannya. SMS teman yang kerja di RS Akademik UGM, dia reply “itu mempelajari penyakit di masyarakat”. Oh, pas iseng liat dan baca soal, hmm..sepertinya menarik juga. Walau gak dapet mata kuliah ini pas S1, tapi dikit2 bisa meraba-raba apa content-nya. Ada istilah adverse drug reaction, adverse drug event, dan pharmacovigilence. Istilah terakhir ini tambah sering denger lagi. Kemarin pas ada simposium di ITB ada seorang profesor dari India, mempresentasikan tema ini. Sebelumnya setelah lulus apoteker, pas interview dengan Dirut Indofarma juga ditanya-tanya pharmacovigilence/post marketing surveilance ini, jadi nyambunglah dikit2.

Soal dari dosen pertama sih cuma 3 baris, tapi lampirannya 7 lembar. Lampiran berupa suatu artikel dari jounal JAMA tentang profilaksis menggunakan chlorhexidine gluconate (klorheksidin glukonat) untuk mencegah infeksi nosokomial. Daripada bengong liatin anak-anak yang pada serius ngerjain soal, iseng menyimak cerita dari penulis dalam tulisan papernya. Jadi begini ceritanya, tentu sudah pada tahu tentang klorheksidin glukonat kan? Dia adalah suatu antiseptik yang aman dan efektif terhadap bakteri gram positif dan negatif. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat efektivitas dekontaminasi perioperatif dari nasofaring dan orofaring (lihat gambar di bawah) dengan klorheksidin glukonat 0,12% dalam rangka pengurangan infeksi nosokomial pasca bedah jantung. Intervensi yang dilakukan ke pasien adalah pembilasan orofaringeal dan olesan pada hidung dengan salep yang mengandung chlorhexidine glukonat.

Outcome utama yang diamati adalah insidensi infeksi nosokomial, juga tingkat pertumbuhan Staphylococcus aureus hidung dan durasi tinggal di rumah sakit. Hasil yang diperoleh adalah terjadi penurunan yang cukup signifikan sebesar 57.5% S aureus nasal carriage pada kelompok klorheksidin glukonat dibanding penurunan 18.1% pada kelompok plasebo (P<.001). Total tinggal di RS bagi pasien yang diberi treatment klorheksidin glukonat adalah 9.5 hari dibanding dengan plasebo yaitu 10.3 hari (ARR, 0.8 days; 95% CI, 0.24-1.88; P = .04). Sehingga kesimpulannya adalah dekontaminasi nasofaring dan orofaring dengan chlorhexidine gluconate menunjukkan metode yang efektif untuk menurunkan infeksi nosokomial pasca bedah jantung.

Soal dari dosen kedua, sama dari paper Jurnal dengan judul “Clarifying Adverse Drug Events: A Clinician’s Guide to Terminology, Documentation, and Reporting”. Kalau paper ini menceritakan …. (belum selesai mamahami, waktu ujian sudah habis)..to be continued..

Referensi:

jama-full

anal